Archive for March, 2006

Reminiscing memories

Thursday, March 23rd, 2006

This afternoon is one of those moments where I’m imagining of another place, either a place where I’ve been to or a place where I wished I would be.

It has been almost 17 years since my elementary school. But I had some unforgettable memories; most of them are nice ones.

SD gue mayan jauh dari tempat tinggal, kira2 2KM lah. Pake acara nyeberang hutan pula kalo mau motong jalan. Sementara kalo nggak motong jalan, jalan puternya lebih jauh lagiii…

Salah satu hal yang menyenangkan dari going to school those days was the forest I have to cross. It had a specifically very pleasant smell, somehow a mix between the smell of sweet soil and fresh grass. Apalagi kalo abis ujan… uuuuhhhhhhh… bisa tarik napas dalam berkali-kali disana.

The forest itself wasnot one of those gloomy-heavy rainforests you find in

Kalimantan

. In the middle of the forest there was a small creek parting it, with crisp cool water flowing, and the sound it made… it brought such a wonderful feeling. Passerby-s had to tip-toe to cross the creek, so not to wet their shoes too much. To add to its beauty, there were blue berries and many sort of wild forest flowers growing on the side of the creek.

But on very rare occasions, it does have its downsides. Suatu hari setelah hujan - sepulang sekolah, gue pulang ngelewatin hutan itu. But just before the creek, gue ngeliat sesuatu di tanah yang bergerak-gerak slithering. Aaaaaa… ada ular kecil hitam-putih (kaya tipi?) yang lagi merayap di tanah. Ick! Buru-buru ngeloncatin dia dan melanjutkan perjalanan. Eh kira-kira 200M dari batas hutan yang menuju rumah gue, gue ngeliat lagi sesuatu di rerumputan (rumput di bagian jalan hutan dibabat tipis, sementara yang nggak dipake sebagai jalan setapak agak tinggi gitu – kira-kira sepinggang anak SD). HUWAAAAAA… ternyata ular besaaarr (so it seemed at that time)!! Mana dia melintang nutupin jalan setapak yang harus gue lewatin lagi! Huh… Gimana dong? Mau lewat rerumputan yang lebih tinggi, takut makin banyak temannya yang berada disitu.

Akhirnya keputusan yang gue ambil adalah gue balik ke arah sekolahan dan took a detour lewat jalan puter yang mayan jauh. Udah gitu, pake acara ujan lagi pula! Nasib.. nasib…

Jaman keemasan gue, jaman SD. Dimana everything seemed to be burdenless. No stress, no hassle. Where my only fear was that my softball team doesn’t make it to the district level matches.

Such a perfect thing

Thursday, March 16th, 2006

What do you call it when you have a bad experience that you knew it could have been prevented? Whatever it is called, I just had one this afternoon.

Pagi ini bos minta diambilin CD kampanye katarak di salah satu badan pemerintah yang khusus nanganin kesehatan. Setelah bikin janji mau ketemu sekitar jam 2an, sama orang yang in charge disana untuk ambil tu CD, berangkatlah tadi jam 1.30an.

TERNYATA EH TERNYATA… Mampang macet beraaaatttttt… (padahal dapet mobil kantor juga maksain make sebelom bos make nanti jam 3). Belom lagi, ac mobil yang ternyata rusak, huaaahhh.. makin menambah kenikmatan perjalanan!

Jarak yang biasanya cuma ditempuh dalam waktu 20menitan, tadi siang menjadi 1jam! Geraaaahhhhhh maaakkkkk!!!!

Sampe disana, langsung loncat dan setengah berlari-lari naek ke atas (secara diburu waktu juga), naek lift (uuuhh… lama banget) dan lari lagi sampe ke ruang 715.

“Permisi, Dr. Wira ada, tadi saya udah janjian, mau minta CD kampanye katarak”, kata gue sambil ngos2an…

“Oh itu di mejanya, kesana aja Mbak”, kata yang jaga meja penerima tamu.

“Mbak Nenny, saya kira nggak jadi datang” senyumnya menyambut kedatangan gue -– bikin curiga aja, ada apa nih senyum2, tumben…

“Saya baru engeh kalo semua CD kita disimpen di lemari itu” sambil nunjuk ke sebuah lemari di pojokan ruangan. “Trus kuncinya ternyata saya lupa bawa.”

HEEEGGGHHH.. POOWWW… BRAAAKKKSSS… DUEEEENGGG…

Feels like I’ve just been beaten up by orang sekampung!!

Why didn’t you call me?? Why couldn’t you let me know this morning?? Why the suspicious smile?? WHY?? WHY??

Hmmmpppfffhhh…

Lagi sakit

Tuesday, March 14th, 2006

Uuugghhh.. .ga enak banget sih

Badannya meriang

Idungnya buntu

Kepala cenut-cenut

Tenggorokan sakit banget rasanya

Belum kalo “serangan” batuknya mulai

Hmmppphh… menderita

Sampe bawa obat batuk segala nih ke kantor

Jadinya dari tadi ga fokus ma orang2

Nahan rasa ngantuk

Kayanya alamat pulang cepet nih

Kabur ah.. kabuuurrr…

flame of love (aduuuh judulnyaaaa…)

Friday, March 3rd, 2006

A friend’s question inspired me to write. “Gue seneng banget kalo lagi pedekate, gue seneng ngerasain semriwing-semriwingnya kalo lagi deket-deket tu orang”. Then she asked me that question “Lo masih berasa kaya gitu nggak sih sama laki lo?”

Loudly, I answered in confidence “Iya laaahh”. Secara, emang gue juga masih ngerasain hal itu, tapi cuma terkadang. Dalam hati sih tetep mikir, “Iya ya, where did that feeling go?”

Dulu, ketika masih pedekate ma orang yang sekarang jadi suami gue, perasaan “tingling” itu jelas ada. Perasaan inilah yang gue jadiin benchmark, apakah gue “suka” ma orang ini atau enggak. Bahkan nggak perlu ketemu orangnya physically pun gue bisa ngerasain semriwing-semriwing ketika gue mikir tentang dia, apalagi ketika kita ketemuan dan.. ehmm… ehmm.. melakukan physical contact, like holding hands or kissing (jangan mikir kelebihan ya!?)

Sekarang, gue nggak ngerasain “itu” se-intense dulu. Tapi masih tetep berasa. Misal, kalo kita ketemu lagi after he’s been away for a longer period of time. Atau ketika kita ******** (censored by request). Jadi gue ngerasa adalah tugas gue to keep this feeling alive and well, whatever the condition given is.

On another note, a very close friend had said “Laki-laki itu cinta sama istrinya untuk 2-3 tahun pertama kehidupan perkawinannya aja, selanjutnya yang ada hanya perasaan sayang dan tanggung-jawab, karena cintanya berpindah ke anak”. Serem juga ya ngebayangin kalau suami kita ternyata nggak cinta sama kita, tapi hanya sayang dan ngerasa kita adalah tanggung-jawabnya.

So now.. I feel like I have a new pe-er to do. My husband and I need to know how to keep the flame burning in our relationship. Even if the burn isn’t as ferocious as it were before. And give it our best before we could say “that tingling feeling is just not there anymore”. Insya Allah.