flame of love (aduuuh judulnyaaaa…)
A friend’s question inspired me to write. “Gue seneng banget kalo lagi pedekate, gue seneng ngerasain semriwing-semriwingnya kalo lagi deket-deket tu orang”. Then she asked me that question “Lo masih berasa kaya gitu nggak sih sama laki lo?”
Loudly, I answered in confidence “Iya laaahh”. Secara, emang gue juga masih ngerasain hal itu, tapi cuma terkadang. Dalam hati sih tetep mikir, “Iya ya, where did that feeling go?”
Dulu, ketika masih pedekate ma orang yang sekarang jadi suami gue, perasaan “tingling” itu jelas ada. Perasaan inilah yang gue jadiin benchmark, apakah gue “suka” ma orang ini atau enggak. Bahkan nggak perlu ketemu orangnya physically pun gue bisa ngerasain semriwing-semriwing ketika gue mikir tentang dia, apalagi ketika kita ketemuan dan.. ehmm… ehmm.. melakukan physical contact, like holding hands or kissing (jangan mikir kelebihan ya!?)
Sekarang, gue nggak ngerasain “itu” se-intense dulu. Tapi masih tetep berasa. Misal, kalo kita ketemu lagi after he’s been away for a longer period of time. Atau ketika kita ******** (censored by request). Jadi gue ngerasa adalah tugas gue to keep this feeling alive and well, whatever the condition given is.
On another note, a very close friend had said “Laki-laki itu cinta sama istrinya untuk 2-3 tahun pertama kehidupan perkawinannya aja, selanjutnya yang ada hanya perasaan sayang dan tanggung-jawab, karena cintanya berpindah ke anak”. Serem juga ya ngebayangin kalau suami kita ternyata nggak cinta sama kita, tapi hanya sayang dan ngerasa kita adalah tanggung-jawabnya.
So now.. I feel like I have a new pe-er to do. My husband and I need to know how to keep the flame burning in our relationship. Even if the burn isn’t as ferocious as it were before. And give it our best before we could say “that tingling feeling is just not there anymore”. Insya Allah.